Senin, 14 Februari 2011

mengejar angka dan asa



akhirnyaaaa.... libur yang membosankan ini dateng juga *yeahhh... sama halnya dgn "barney" yg ngebosenin pisan* lah terus apa hubunganya liburan dgn foto yang g aplod tadi, ga nyambung pisan kan?? (emang...) yak sebenernya g bukan mau cerita tentang liburan tapi mau cerita tentang uneg-uneg heuhhh pokoknya mah heuhhh... T.T to the point lah mumpung g lagi "kebelet" pengen cerita puas dan panjang rebarrrr.
emg g tau g ga rajin-rajin amat lah kek temen2 sekitar gw dan g juga tahu klo g bukan kutu buku bukan pula sang jenius yang bangga atas kemampuannya di atas normal. Tapi g ingin klo g juga bisa kek mereka meskipun g tahu itu ga di tebus dengan cuma-cuma. Tiap minggu g jarang banget absen lah untuk salah satu ni matkul (g anggap spesial lah...) pernah si satu kali tu g kesiangan dan terpaksa ga masuk kelass hahaha tapi itu hanya 1 kali dalam 6 bulan ato lebih tepatnya 32 minggu pertemuan jadi klo g itung-itung si 32-1=31 (ya..ya... 31 minggu gw slu ada untuknyah :D) eh.. eh.. untung tak dapat di raih dan malang tak dapat ditolak noh nilai g jeblok *ngenespisan* eits tunggu dulu! yang dapet "keberuntungan" kek g ternyata banyak juga lhoooo *ketawa bangga* kenapa g katakan beruntung?? karena dari sekian yang ikutan ni ujian cuma itungan jari (tangan kanan) aja yang lolos *ciekhhh... si eceu2 n aa2 yeuhh* tunggu pembalasan yg durjana inih *ciyattttt :D
moga kita semua juga lolos amien...

My petSONG


*model : si belang & item*


Whoillaa!! mari berjumpa lagi dgn saya *ekhem, ekhemm*
SUMPAH ini intro yg gak penting xD xD

soal penting ga penting g mw nanya "penting ga sih km punya binatang peliaraan??" eh? ginilah pertanyaannya g ganti "seberapa pentingkah dia(pets) untuk mu???" inget yak g skr ngomongin binatang peliaraan bukan "binatang" yg km piara dan sering km sms-in (pagi-siang-sore lah malem lah) No no no! * geleng-geleng telunjuk*
ini nih si item dan si belang (sebut saja begitu karena g blm sempet ngasi nama bwt mereka) *halahh* yang g temuin di atap rumah (iya bener,, tu emak kucing nglaihirin si belang ama si item di atap rumah ) klo kata ade g sih tu kucing ngelahiriin 4 ekor anak kucing (yaiyalahh kucing masa gajah) ternyata selidik punya selidik emg bener tuh *gosh!* Dua yg item, satu yang belang (yg difoto) dan satu lagi yang belang abu-abu item (pas g mw foto malah kabur benar malu2 kucing ternyatah :p )

sebenernya tu kucing-kucing bukan piaraan g si :p
cuma kebetulan ja tu si emak kucing sering g kasi makan klo lagi nongol depan rumah, dannn.. alhasil si emak kucing mencoba membalas budi baik g dgn cara ngelahiriin 4 ekor anak kucing di atap rumah (oiya bapak nya sapa yakk??) dan masi kata ade g jg tu bapaknya item juga hhha emg bener yak buah ga bakal jatoh jauh-jauh dari pohonya *pepatah sesat* pantesan kulit g item ternyatahhh..... (lho kok jadi bahas g si?) :p

Minggu, 13 Februari 2011

you can't be seriously dul





*gatau ngapah pengen aplod ni foto*

waduh bentar lagi ( tepatnya semester ini ) rancob akan menghampiriku , waktu dimana mulai harus serius bahkan lebih serius dari sebelumnya *adeuhhhh* jujur aja belom da bayangan apalagi kalo mesti "ngimpleng" mau judulnya apaan :D :D hha si aka juga nanya gini
" Non kamu mau ngambil paan buat tar rancob??"
"tau nih apa yak g masi bingung"
"masya ampun ni bocah kapan insapnya"
"iyeee... insap deh (sigh)


rencananya pada hari itu aku pengen ngambil judul anu (sstttt rahasia) :D
pas nanya-nanya ama "para pendahulu" katanya mending ngambil anu aja selain cocok dgn kepribadian w,katanya juga si *baru katanya* gak terlalu rumit
(halahhh... tipu muslihat apaan lagi ni coba) eh tapi semoga aja lancar aja, semoga diberi kemudahan semoga sesuai dengan rencana aminnnnn

eh iyaaa apakabarnya syndrome UAS hha gak nyangka juga dah terlepas juga, meskipun nilainya belum keluar semua baru 6 mata kuliah (ya allah saya berharapa yang terbaik yg kau beri)

waktunya cuci muka ama gosok gigi nih met tidur dah.
-____-

laporan KFA

A. PENDAHULUAN
1. Tujuan Percobaan
Mengidentifikasi suatu sampel senyawa campuran dalam suatu obat
2. Dasar Teori
Dalam setiap proses analisis kualitatif dan kuantitatif untuk menetapkan jenis dan jumlah analit yang terdapat dalam sampel, akan memperoleh hasil identifikasi dancpengukuran yang baik apabila komponen tertentu yang dikehendaki memberikan respon tanpa gangguan dari analit lainnya. Idealnya, proses identifikasi jenis dan jumlah dalam suatu proses analisis hanya terdapat analit tunggal yang terbebas dari segala gangguan analisis. Persiapan sampel melalui proses pelarutan dan peleburan menghasilkan larutan yang mengandung campuran dua atau lebih komponen analit yang dapat menimbulkan kesalahan dalam pengukuran salah satu komponen analitnya.
Persiapan sampel melalui proses pelarutan dan peleburan menghasilkan larutan yang mengandung campuran dua atau lebih komponen analit yang dapat menimbulkan kesalahan dalam pengukuran salah satu komponen analitnya
Golongan alkaloid adalah golongan senyawa yang mempunyai struktur heterosiklik dan mengandung atom N di dalam intinya (pembawa sifat basa/alkalis). Sifat umum yang dimiliki oleh golongan senyawa ini adalah: basa, rasa pahit, umumnya berasal dari tumbuhan dan berkhasiat secara farmakologis. Struktur golongan alkaloid amat beragam, dari yang sederhana sampai yang rumit. Koniina dan nikotin adalah dua contoh yang sederhana.
Beberapa alkaloid penting memiliki sistem cincin indol. Asam lisergat disebut LSD (lysergic acid diethylamide), yaitu obat halusinasi yang sering disalahgunakan. Hanya 1 μg LSD (takaran yang tak dapat dilihat) sudah cukup menimbulkan halusinasi. Contoh alkaloid yang memiliki cincin indol adalah reserpina, yaitu alkaloid indol dari tanaman penawar bisa, mengurangi tekanan darah tinggi, tetapi jika tak dikendalikan dapat menyebabkan serangan jantung atau pembuluh darah pecah.
Parasetamol atau asetaminofen adalah obat analgesik dan antipiretik

struktur asam salisilat
Asan karboksilat merupakam segolongan senyawa organik yang dicirikan oleh gugus karboksil. Asam karboksilat tergolong asam karena dalam larutan, menghasilkan ion karboksilat dan proton. RCOOH ----> RCOO- + H+
Asam karboksilat melimpah dan tersebar luas di alam. Anggota deret asam karboksilat alifatik BM rendah tidak berwarna, mudah menguap, baunya tajam dan tidak sedap. Contoh asam karboksilat adalah Asam formiat, asam asetat, asam propionat, asam butirat, asam oxalat, asam fumarat dan lain-lain.
Klorfeniramin maleat adalah turunan alkilamin yang merupakan antihistamin dengan indeks terapetik (batas keamanan) cukup besar dengan efek samping dan toksisitas yang relatif rendah . Mekanisme kerja klorfeniramin maleat adalah sebagai antagonis reseptor H1, Klorfeniramin maleat akan menghambat efek histamin pada pembuluh darah, bronkus dan bermacam-macam otot polos; selain itu klorfeniramin maleat dapat merangsang maupun menghambat susunan saraf pusat
3. Alat dan Bahan
a. Alat
1. Tabung reaksi
2. Rak tabung
3. Pipet tetes
4. Gelas kimia
5. Spatula
6. Spirtus
7. Cawan porslen
8. Lap / tisu

b. Bahan :
1. AgNO3
2. CuSO4
3. Aquadest
4. NaOH
5. HCl
6. HNO3
7. FeCl3
8. Na Nitropusid
9. DAB- HCl
10. Pb asetat
11. Fehling A dan fehling B
12. Resorsin
13. Diazo A dan Diazo B
14. Pereaksi Meyer

B. PROSEDUR
1. Uji organoleptik
Uji organoleptik meliputi uji makroskopik, uji mikroskopik, warna dari sampel, bau dan rasa dari sampel.

2. Uji kelarutan
Uji kelarutan meliputi kelarutan sampel daalam air, dalam asam, dalam basa dan dalam pelarut organik.
Caranya : siapkan 4 buah tabung reaksi, masing-masing tabung berturut-turut diisi dengan air/aquades, latutan asam, larutan basa, dan pelarut
organik. Kemudian sampel dilarutkan dalam masing-masing tabung.

3. Isolasi
Caranya: dilarutkan dalam pelarut yang sesuai kemudian di sentrifugasi pisahkan fase larutan fase endapan kemudian identifikasi



4. Uji golongan
Caranya sampel yang akan di identifikasi di reaksikan dengan fehling A dan fehling B apabila ada perubahan warna berarti ada senyawa pereduksi

5. Uji penegasan
Caranya : analit direaksikan dengan suatu reagen tertentu yang spesifik dan selektif, kemudian amati perubahan warna yang terjadi




C. DATA DAN PENGAMATAN
Penentuan Pengamatan kemungkinan
1. ORGANOLEPTIK
a. Makroskopik
Campuran serbuk hablur, jarum dan higroskopik
b. Mikroskopik

-
c. Warna
Hijau tosca
d. Bau

Bau khas
e. Rasa


Pahit dan agak manis
-
Penentuan Pengamatan kemungkinan
2. KELARUTAN
a. Air Agak sukar larut
b. Asam

larut
c. Basa
larut
d. Pelarut organik

Agak sukar larut
D. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa campui suatu obat dan membedakan sifat-sifatnya serta reaksi- reaksi yang terjadi di secara kualitatif. analisis kualitatif, yaitu analisis yang berhubungan dengan identifikasi suatu zat atau campuran yang tidak diketahui. Praktikan diberi sampel dengan 4 macam analit untuk di identifikasi. Sebelum melakukan identifikasi kita harus tahu terlebih dahulu sediaan apa yang akan kita isolasi, apakah serbuk, salep atau tablet. Praktikan kali ini diberikan sediaan obat bentuk tablet yang sudah diserbukan. Jadi praktikan tidak perlu menggerusnya karena sudah tercampur secara homogen. Ketika akan mengisolasi suatu zat kita harus pikirkan terlebih dahulu zat pembawa dari obat tersebut. Zat pembawa dalam suatu tablet ( yang sudah diserbukan) biasanya terdapat amylum dan beberapa zat pengikat yang tak larut dalam air. Karena dalam tablet tersebut terdapat amylum sehingga tidak dilarutkan dalam etanol karena akan mengganggu pada saat identifikasi. Agar memudahkan tahap preparasi sampel di bagi menjadi 3 yaitu untuk uji golongan uji penegasan dan sebagai cadangan. Selanjutnya diperiksa organoleptiknya meliputi bentuk, bau, rasa, dan kelarutan Percobaan pendahuluan berupa kelarutan dalam asam dan basa Identifikasi awal senyawa obat yang telah disentrifugasi dipisahkan dalam tabung yang berbeda. Tabung A berisi larutan larut dan tabung B berisi endapan tak larut. kemudian dilanjutkan pada uji golongan. Untuk mempermudahnya praktikan melakukan uji esterifikasi pada tabung A, pada uji esterifikasi positif terbentuk bau yang menyengat kemungkinan zat tersebut asam salisilat baru kemudian uji penegasan secara spesifik dengan menggunakan FeCl3 dan menunjukan positif berwarna ungutetapi pada saat di uji dengan marquis tidak terbentuk warna rosa merah yang positif hal ini terjadi karena reagen marquis tersebut tidak dibuat segar. Ketika ditambahkan asam sitrat pekat terbentuk warna kuning. FeCl3 juga memberikan hasil positif warna biru violet kemungkinan larutan yang terdapat dalam Tabung A juga mengandung turunan aniline yaitu parasetamol kemudian dilakukan uji penegasan denagn menggunakan CuSO4 dan NaOH warna yang terbentuk hijau tosca, tapi karena sampel yang di ujikan juga warna hijau tosca maka dilanjutkan ke uji penegasan selanjutnya dengan menambahkan asam klorida encer kemudian dipanaskan dalam waterbath setelah dingin di tambahkan FeCL3 warna yang terbentuk positif ungu. Pada tabung B dijuji golongan pada saat uji golongan menunjukan positif pada uji golongan alkaloid dengan menggunakan pereakasi KING warna yang terbentuk merah muda.ketika ditambah CuSO4 membentuk enadapan tak larut kemungkinan bukan aminofilin melainkan teofilin. Ada kesulitan pada saat pengujian analit ke 4 karena pada semua uji golongan tidak menujukan warna yang positif warna kemungkinan analit tersebut CTM karena pada saat pengujian parasetamol ketika di tambahakan asam sitrat terbentuk warna kuning.



E. KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa sampel no. 46 adalah parasetamol CTM asam salisilat dan teofilin


F. DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1979). Farmakope Indonesia edisi ketiga 1979. Jakarta: Depdiknas
http://id.wikipedia.org/wiki/Parasetamol diakses tanggal 5 januari 2010 20.22 [WIB]
http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_salisilat diakses tanggal 5 januari 2010 20.22 [WIB]

Laporan KFA (lagi)

A. PENDAHULUAN
1. Tujuan Percobaan
Mengidentifikasi suatu sampel senyawa campuran dalam suatu obat
2. Dasar Teori
Dalam setiap proses analisis kualitatif dan kuantitatif untuk menetapkan jenis dan jumlah analit yang terdapat dalam sampel, akan memperoleh hasil identifikasi dancpengukuran yang baik apabila komponen tertentu yang dikehendaki memberikan respon tanpa gangguan dari analit lainnya. Idealnya, proses identifikasi jenis dan jumlah dalam suatu proses analisis hanya terdapat analit tunggal yang terbebas dari segala gangguan analisis.
Persiapan sampel melalui proses pelarutan dan peleburan menghasilkan larutan yang mengandung campuran dua atau lebih komponen analit yang dapat menimbulkan kesalahan dalam pengukuran salah satu komponen analitnya
Bedasarkan kelarutannya vitamin dibagi menjadi dua kelompok, yaitu vitamin yang larut dalam air (vitamin C dan semua golongan vitamin B) dan yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E, dan K). Oleh karena sifat kelarutannya tersebut, vitamin yang larut dalam air tidak dapat disimpan dalam tubuh, sedangkan vitamin yang larut dalam lemak dapat disimpan dalam tubuh.
Vitamin larut air memiliki karakteristika beragam, yaitu ada yang bersifat asam, basa, dan netral, sehingga dalam larutan akan terdapat dalam bentuk molekul yang netral atau ionik. Asam askorbat bersifat asam dan dalam larutan basa akan terionisasi, sedangkan tiamin hidroklorida, nikotinamida, sianokobalamin, dan piridoksin hidroklorida terionisasi dalam asam dengan karakteristik yang berbeda


Asam askorbat atau lebih dikenal dengan nama vitamin C adalah vitamin untuk jenis primat tetapi tidak merupakan vitamin bagi hewan-hewan lain. Asam askorbat adalah suatu reduktor kuat. Bentuk teroksidasinya, asam dehidroaskorbat, mudah direduksi lagi dengan berbagai reduktor seperti glutation (GSH). Peranan asam askorbat sebagai koenzim belum dapat dipastikan karena asam ini tidak dapat berikatan dengan protein yang manapun
Eritromisin merupakan antibiotik golongan makrolid. Antibiotika golongan makrolida mempunyai persamaan yaitu terdapatnya cincin lakton yang besar dalam rumus molekulnya. Eritromisin dihasilkan oleh suatu strain Streptomyces erythreus. Zat ini berupa kristal berwarna kekuningan, larut dalam air sebanyak 2 mg/ml. Eritromisin larut lebih baik dalam etanol atau pelarut organik. Antibiotik ini tidak stabil dalam suasana asam, kurang stabil pada suhu kamar tetapi cukup stabil pada suhu rendah. Aktivitas in vitro paling besar dalam suasana alkalis. Larutan netral eritromisin yang disimpan pada suhu kamar akan menurun potensinya dalam beberapa hari, tetapi bila disimpan pada suhu 5˚ biasanya tahan sampai beberapa minggu.
3. Alat dan Bahan
a. Alat
1. Tabung reaksi
2. Rak tabung
3. Pipet tetes
4. Gelas kimia
5. Spatula
6. Lap / tisu

b. Bahan :
1. AgNO3
2. CuSO4
3. Aquadest
4. NaOH
5. HCl
6. HNO3
7. FeCl3
8. Na Nitropusid
9. DAB- HCl
10. Pb asetat
11. Fehling A dan fehling B
12. Resorsin


B. PROSEDUR
1. Uji organoleptik
Uji organoleptik meliputi uji makroskopik, uji mikroskopik, warna dari sampel, bau dan rasa dari sampel.

2. Uji kelarutan
Uji kelarutan meliputi kelarutan sampel daalam air, dalam asam, dalam basa dan dalam pelarut organik.
Caranya : siapkan 4 buah tabung reaksi, masing-masing tabung berturut-turut diisi dengan air/aquades, latutan asam, larutan basa, dan pelarut
organik. Kemudian sampel dilarutkan dalam masing-masing tabung.


3. Uji golongan
Caranya sampel yang akan di identifikasi di reaksikan dengan fehling A dan fehling B apabila ada perubahan warna berarti ada senyawa pereduksi

4. Uji penegasan
Caranya : analit direaksikan dengan suatu reagen tertentu yang spesifik dan selektif, kemudian amati perubahan warna yang terjadi

D. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini bertujuan untuk mengidentifikasi golongan obat dan membedakan sifat-sifatnya serta reaksi- reaksi yang terjadi di secara kualitatif. analisis kualitatif, yaitu analisis yang berhubungan dengan identifikasi suatu zat atau campuran yang tidak diketahui. Praktikan diberi sampel dengan 3 macam analit untuk di identifikasi. Sebelum melakukan identifikasi kita harus tahu terlebih dahulu sediaan apa yang akan kita isolasi, dalam praktikum klai ini praktikan mendapatkan sampel serbuk berwarna merah jingga. Agar memudahkan tahap preparasi sampel digerus dan di bagi menjadi 3 yaitu untuk uji golongan uji penegasan dan cadangan. Untuk mengetahui sifatnya sampel dilarutkan terlebih dahulu dalam aquadest, dan hasilnya membentuk endapan yang sebagian larut. kemudian pisahkan pada tabung ke 1 berupa endapan dan tabung ke 2 berupa larutan yang larut. Kemudian dilanjutkan uji penggolongan secara diazotasi ternyata hasilnya negative secara esterifikasi negative. Baru pada uji penggolongan vitamin dan antibiotic positif. Pada tabung ke 2 di bagi menjadi tiga bagian yaitu tabung 2a 2b dan 2c masing tabung diberi pereaksi fehling, resorsin dan AgNO3 uji penegasan dilakukan berdasarkan cara kimia. Fehling adalah oksidator sehingga akan mereduksi asam askorbat hasil positif ditunjukan dengan terjadinya perubahan warna. Spot test dilakukan dengan cara analit di tambahkan FeSO4 dan NaOH ketika ditambahkan asam warna ungu tersebut akan hilang sedangkan apaibla ditambahkan basa akan timul warna ungu kembali, hal ini terjadi karena dalam suasana basa sama askorbat akan terionisasi. Karena vitamin C dan vitamin B12 sama sama larut dalam air maka harus di pilih pereaksi yang spesifik dan selektif.
Pada tabung pertama terdapat endapan kemungkinan zat tersebut antibiotic karena sifatnya yang sukar larut air. Maka larutan tersebut ditambahkan pelarut organic seperti etanol untuk mepertinggi kelarutan. Baru kemudian dilakukan uji golongan dengan asam sulfat, warna yang terbentuk coklat tua. Jadi kemungkinan sampel tersebut eritromisin.

E. KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa sampel no. 12 adalah vitamin b12 vitamin C dan eritromisin


F. DAFTAR PUSTAKA
Sulaiman, A.H., 1995. Biokimia untuk Pertanian. USU-Press, Medan
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1979). Farmakope Indonesia edisi ketiga 1979. Jakarta: Depdiknas
http://id.wikipedia.org/wiki/Vitamin_B12

Senin, 01 Februari 2010

Rangkuman Asam-Basa

Nama : Repiantika
Kelas : IIA
A. INDIKATOR-INDIKATOR ASAM-BASA
1. Teori Perilaku Indikator
Analis mendapat keuntungan dari perubahan pH yang besar yang terjadi dalam titrasi untuk menentukan saat kapan titik ekivalen dicapai. Ada banyak asam dan basa organik Iemah yang bentuk tak–terurainya dan bentuk ioniknya memiliki warna yang berbeda. Molekul tersebut bisa digunakan untuk menentukan kapan penambahan titran telah mencukupi, dan dinamakan indikator visual. Sebuah contoh sederhana adalah p-nitrofenol, yang merupakan asam lemah yang terurai sebagai berikut :




Bentuk tak–terurai p-nitrofenol tidak berwarna, tetapi anionnya, yang mempunyai suatu sistem pengubah ikatan tunggal dan Banda (sistem terkonjugat), berwarna kuning. Molekul-molekul (atau ion-ion) yang mempunyai sistem terkonjugat tersebut menyerap sinar berpanjang gelombang lebih panjang ketimbang molekul-molekul sebanding yang tidak ada sistem terkonjugatnya. Sinar yang diserap seringkali berada pada bagian tampak dari spectrum, sehingga molekul atau ion tersebut berwarna.
Indikator fenolftalein (di bawah) yang sudah dikenal merupakan asam diprotik tidak berwarna. Indikator ini terurai dahulu menjadi bentuk tidak berwarnanya












Na+ O3S N = N N (CH3)2 + H3O+

In, kuning H
Metil Oranye Na+ O3S N N = = N (CH3)2 + H2O

In merah muda

Dan kemudian dengan hilangnya proton kedua, menjadi ion dengan sistem ter¬konjugat; menghasilkan warna merah. Metil oranye, indikator Iainnya yang banyak digunakan, merupakan basa dan berwama kuning dalam bentuk molekul¬nva_ Penambahan proton menghasilkan kation yang berwarna merah muda.
2. Penentuan Rentang Perubahan Warna Suatu Indikator
Untuk mudahnya mari kita beri nama suatu indikator asam sebagai Hln, dan indikator basa sebagai ln. persamaan penguraiannya adalah
Hln + H2O H3O+ + ln-
ln + H2O InH+ + OH
tetapan penguraian dari asam adalah
Ka = [H3O+] [In-]
[Hln]
Dalam bentuk logaritmanya, ini menjadi
PH = PKa – log
Tabel 1. Rasio Bentuk Warna dari Indikator pada Berbagai Nilai pH
pH LARUTAN RASIO
[Hln]/[In] WARNA
1
2
3
4
5
6
7
8 10.000 : 1
1000 : 1
100 : 1
10 : 1
1 : 1
1 : 10
1 : 100
1 : 1000 Merah
Merah
Merah
Merah
Oranye Rentang
Kuning
Kuning
Kuning

Perubahan pH minimum yang dibutuhkan untuk perubahan warna ini diacu sebagai rentang indikator. Dalam contoh kita, rentangnya adalah dari 4 sampai 6. Pada nilai pH menengah, warna yang ditunjukkan oleh indikator bukan merah maupun kuning tetapi mendekati oranye. Pada pH 5, yakni : pKa, dari Hln, kedua bentuk yang berwarna tersebut memiliki konsentrasi yang sama; artinya, separuh ternetralkan. Seringkali, orang mendengar pernyataan seperti. "Sebuah indikator yang berubah warna pada pH 5 telah digunakan." ini berarti bahwa pKa, dari indikator adalah 5, dan rentangnya kira-kira dari pH 4 sampai 6.
Tabel mendaftarkan beberapa indikator asam-basa bersama dengan perkiraan rentang mereka. Perhatikan bahwa rentang tersebut secara kasar adalah antara I hingga 2 satuan pH, sesuai dengan asumsi yang kita buat di atas. Sebenarnya, rentangnya bisa tidak simetris pada pK indikator, karena mungkin diperlukan rasio yang lebih tinggi bagi pengamat untuk tnelihat bentuk yang satu ketimbang yang diperlukan untuk melihat yang lain.
3. Pemilihan Indikator yang Sesuai
Dalam titrasi asam lemah, pilihan indikatornya jauh lebih terbatas. Kita harus memilih indikator yang berubah warna di sekitar titik ekivalen dari titrasi. Untuk asam lemah, PH pada titik ekivalen diatas 7, dan fenolftalein merupakan indikator yang lazim digunakan. Untuk basa lemah, yang memiliki PH dibawah 7, indikatot yang sering digunakan metil merah atau oranye (4,2 sampai 6,2) atau metil oranye. Untuk asam dan basa kuat, indikator yang sesuai adalah metil merah, bromtimol biru, dan fenolftalein.
4. Indikator Galat
Ada sedikitnya dua sumber kesalahan dalam penentuan titik akhir suatu titrasi yang menggunakan indikator visual. Satu terjadi ketika indikator yang dipakai tiak berubah warna pada PH yang tepat. Alat kedua terjadi dalam kasus asam (atau basa) lemah dimana kemiringan kurva titrasi tidak besar sehingga perubahan warna tersebut pada titik akhir tidak tajam.




B. KELAYAKAN TITRASI ASAM-BASA
Reaksinya harus sempurna pada titik ekivalen. Derajat kesempurnaan reaksi menentukan ukuran dan ketajaman bagian vertical dari kurva titrasi. Semakin besar tetapan kesetimbangan, semakin sempurna reaksinya, semakin besar perubahan PH dekat titik ekivalen, dan semakin mudah untuk menempatkan titik ekivalen dengan presisi yang bagus.
H3¬O + OH- 2H2O K = 1/Kw = 1,0 x 1014
1. Besarnya Tahapan Kesetimbangan
Sebanyak 50,0 mL HA 0,10 M dititrasi dengan basa kuat 0,10 M. (a) Hitung nilai K minimum agar bila 49.95 mL titran ditambahkan, reaksi antara HA dan OH- pada dasarnya sempuma dan pH berubah 2,00 satuan pada penambahan dua tetes lagi (0,10 mL) titran. (b) Ulangi perhitungan untuk ∆pH = 1,00 satuan.
(a) pH 0,05 mL di luar titik ekivalen dapat dihitung sebagai berikut:
[OH-] = 0,05 x 0,10 = 5 x 10-5
100,05
pOH = 4,30
pH = 9,70
Jika ∆pH sama dengan 2,00 satuan, pH 0,05 mL sebelum titik ekivalen harus sebesar 7.70. Pada titik ini jika reaksi sempurna, kita hanya memiliki 0,005 mmol HA yang tidak bereaksi. Sehingga
pH = pKa + log
7,70 = pKa + log
pKa = 4,70
Ka = 2,0 x 105
K = = = 2,0 x 109
(b) Jika ∆pH = 1,00; maka
8,70 = pKa + log
pKa = 5,70
Ka = 2,0 x 10-6
K = 2,0 x 108

2. Pengaruh Konsentrasi
a. Semakin kecil nilai Ka, semakin tinggi pH pada titik ekivalen dan semakin kecil ∆PH.
b. Meningkatnya banyak HA yang dititrasi dalam volume awal yang sama akan menurunkan ∆PH. Namun bertambahnya HA, ini akan meningkatkan volume titran yang dibutuhkan, mengubah galat tertentu dalam menentukan titik akhir menjadi galat relatif yang lebih kecil.
Jika jumlah HA yang sama dititrasi tetapi awal dikurangi, ∆PH meningkat. Ini disebabkan terutama oleh fakta bahwa titran yang berlebih berada dalam volume yang lebih kecil.
c. Meningkatnya konsentrasi titran meningkatkan ∆PH. ini menurunkan volume titran yang dibutuhkan, sehingga membuat galat tertentu menjadi galat relatif yang lebih besar.



















Metode Analisis Titrimetrik
A. Reaksi yang Dipergunakan Untuk Titrasi
1. Asam basa. Ada sejumlah besar asam basa yang dapat ditentukan oleh titrimetrik.
2. Oksidasi-reduksi. Reaksi kimia yang melibatkan oksidasi-reduksi dipergunakan secara luas dalm analisis titrimetrik.
3. Pengendapan. Pengendapan dari kation perak dengan anion halogen dipergunakan secara luas dalam prosedur titrimetrik.
4. Pembentukan kompleks. Contoh dari reaksi dimana terbentuk suatu kompleks stabil antara ion perak dan sianida

B. Molaritas
System konsentrasi ini berdasarkan pada volume dan dapat dipergunakan secara nyaman dalam prosedur laboratorium dimana volume dari larutan adalah kuantitas yang diukur. Hal ini didefinisikan sebagai berikut :
Molaritas = Jumlah mol per liter larutan
Atau

dimana M adalah molaritas, n adalah jumlah mol dalam larutan, dan V adalah volume dari larutan dalam liter karena.

dimana g adalah gram dari zat terlarut dan BM adalah molekul larutan, menghasilkan

persamaan ini dapat dipecahkan untuk gram dari zat terlarut, yang menghasilkan

C. Perhitungan Stoikiometrik
Standar primer harus mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1. Harus tersedia dalam bentuk murni, atau dalam suatu tingkat kemurnian yang diketahui, pada suatu tingkat biaya yang logis. Secara umum, jumlah total dari pengotor tidak boleh melebihi 0,01 sampai 0,02%, dan harus dilakukan tes untuk mendeteksi kuantitas pengotor-pengotor tersebut melalui tes kualitatif dengan sensitivitas yang diketahui.
2. Subtansi tersebut harus stabil. Harus mudah dikeringkan dan tidak terlalu higroskopis sehingga tidak banyak menyerap air selama penimbangan. Subtansi tersebut seharusnya tidak kehilangan berat bila terpapar udara. Garam hidrat biasanya tidak dipergunakan sebagai standar primer.
3. Yang diinginkan adalah standar primer tersebut mempunyai berat ekuivalen yang cukup tinggi agar dapat meminimalisasi konsekuensi galat pada saat penimbangan.
Sebuah sampel natrium karbonat, Na2CO3 dengan berat 0,3542 g dilarutkan dalam air dan titrasi dengan sebuah larutan asam klorida. Volume sebesar 30,23 mL diperlukan untuk mencapai titk akhir metil oranye, dan reaksinya adalah :
Na2CO3 + 2HCl → 2NaCl + H2O + CO2
Hitung molaritas dari asam tersebut
Pada titik ekivalen
mmol HCl = 2 X mmol Na2CO3
VHCl X MHCl = 2 X
30,23 X MHCl = 2 X
MHCl = 0,2211 mmol/mL



D. Berat Ekivalen Dan Sistem Normalitas Konsentrasi
Berat gram-ekivalen (yang biasa disingkat berat ekivalen, BE) dari sebuah asam atau basa didefinisikan sebagai berat yang diperlukan dalam gram untuk melengkapi atau bereaksi dengan 1 mol H+ (1,008 g). BE dari subtansi tersebut dinamakan ekivalen (eq), sama seperti BE yang dinamakan mol. Satu milliekuivalen (meq) adalah seperseribu dari ekivalen, atau
1000 meq = 1cq
Jika n adalah jumlah mol H+ yang dilengkapi oleh 1 mol asam. Atau yang direaksikan dengan 1 mol basa, hubungan antara berat molekul dan berat ekivalen adalah
BE =
Untuk HCl dan NaOH. n = 1 dan BM dan BE adalah sama. Untuk H2SO4 dan Ca(OH)2, n = 2 dan BE adalah setengah BM.
Dari definisi berat ekivalen jelas terlihat bahwa satu ekivalen dari sembarang asam bereaksi dengan satu ekivalen dari sembarang basa. Pada Ept titrasi reaksinya adalah
aA + tT → produk
Ekivalen analit = ekivalen titran
Selalu benar. Istilah mol dalam hubungan matematis pada EPt selalu
t X mol analit = a X mol titran
untuk reaksi (2) di atas akan menjadi
2 X mol H2SO4 = mol NaOH

Kunyit

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kunyit (Curcuma domestica) merupakan salah satu tanaman rempah sekaligus tanaman obat-obatan. Habitat asli tanaman ini adalah wilayah Asia, khususnya Asia Tenggara. Tanaman ini kemudian mengalami persebaran ke daerah Indo–Malaysia, Thailand, Cina, India, Vietnam, Taiwan, Filipina, Australia bahkan Afrika.
Kunyit dapat tumbuh di berbagai tempat, tumbuh liar di ladang, dihutan (misalnya hutan jati), ataupun ditanam di pekarangan rumah, di dataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian 200 m diatas permukaan laut. Selain itu, kunyit dapat tumbuh dengan baik ditanah yang baik tata pengairannya, curah hujannya cukup banyak (2000 mm–4000 mm), atau ditempat dengan sedikit kenaungan. Namun, untuk mendapatkan rimpang kunyit yang besar, sebaiknya ditanam ditanah lempung berpasir.
Selain untuk rempah, kunyit juga ditanam secara monokultur, yang kemudian akan diekspor untuk bahan obat–obatan. Kunyit mempunyai prospek cerah pada sektor industri karena dapat dibuat dalam berbagai bentuk (ekstrak, minyak, pati, makanan/minuman, kosmetika). Produk farmasi berbahan baku kunyit juga mampu bersaing dengan berbagai obat paten (suplemen) yang harganya relatif mahal. Industri produk bahan jadi dari ekstrak kunyit (suplemen) sangatlah berkembang. Produk-produk dari bahan jadi kunyit diberi bahan tambahan seperti vitamin B1, B2, B6, B12, vitamin E, lesitin, amprotab, magnesium stearat, nepagi, dan kolidon 90.
Berdasarkan kenyataan di atas, penulis tertarik untuk membahas tentang kegunaan kunyit serta tahapan pembuatan simplisia menjadi obat

B. Rumusan masalah
1. Bagian tanaman yang akan digunakan sebagai obat
2. Kandungan & khasiat
3. Tahapan cara pengumpulan bahan simplisia
4. Cara ekstraksi simplisia
5. Persyaratan simplisia
6. Tahapan pembuatan simplisia menjadi bahan obat/obat
7. Bentuk sediaan OT dari simplisia
8. Tingkat manfaat dan keamanan dari simplisia

C. Tujuan Makalah
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendekskripsikan
1. Bagian tanaman yang akan digunakan sebagai obat
2. Kandungan & khasiat
3. Tahapan cara pengumpulan bahan simplisia
4. Cara ekstraksi simplisia
5. Persyaratan simplisia
6. Tahapan pembuatan simplisia menjadi bahan obat
7. Bentuk sediaan OT dari simplisia
8. Tingkat manfaat dan keamanan dari simplisia

D. Kegunaan makalah
Kegunaan malakah ini untuk mengetahui khasiat dan persyaratan dari simplisia nabati khususnya tanaman kunyit berdasarkan monografi yang bisa dijadikan obat dengan tingkat manfaat yang aman


BAB II
PEMBAHASAN

A. Sistematika Tanaman Kunyit
Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Divisio : Spermatophyta ( tumbuhan berbiji )
Sub-diviso : Angiospermae ( berbiji tertutup )
Kelas : Monocotyledoneae (biji berkeping satu )
Ordo : Zingiberales
Famili : Zungiberaceae
Genus : Curcuma
Species : Curcuma domestica Val.
Kunyit yang mempunyai nama latin Curcuma domestica Val. merupakan tanaman yang mudah diperbanyak dengan stek rimpang dengan ukuran 20-25 gram stek. Bibit rimpang harus cukup tua. Kunyit tumbuh dengan baik di tanah yang tata pengairannya baik, curah hujan 2.000 mm sampai 4.000 mm tiap tahun dan di tempat yang sedikit terlindung. Tapi untuk menghasilkan rimpang yang lebih besar diperlukan tempat yang lebih terbuka. Rimpang kunyit berwarna kuning sampai kuning jingga. (Sumiati , 2004.)
Beberapa kandungan kimia dari rimpang kunyit yang telah diketahui yaitu minyak atsiri sebanyak 6% yang terdiri dari golongan senyawa monoterpen dan sesquiterpen (meliputi zingiberen, alfa dan beta-turmerone), zat warna kuning yang disebut kurkuminoid sebanyak 5% (meliputi kurkumin 50-60%, monodesmetoksikurkumin dan bidesmetoksikurkumin), protein, fosfor, kalium, besi dan vitamin C. Dari ketiga senyawa kurkuminoid tersebut, kurkumin merupakan komponen terbesar. Sering kadar total kurkuminoid dihitung sebagai % kurkumin, karena kandungan kurkumin paling besar dibanding komponen kurkuminoid lainnya. Karena alasan tersebut beberapa penelitian baik fitokimia maupun farmakologi lebih ditekankan pada kurkumin. (Sumiati , 2004.)
B. Uraian tanaman
Tumbuhan berbatang basah, tinnginya 0,75 - 1 meter, daun berbentuk lonjong, bunga majemuk berwarna merah atau merah muda. Tanaman herba tahunan ini menghasilkan umbi utama berbentuk rimpang berwarna kuning tua atau jingga terang. Perbanyakan dengan anaka. Kunyit ternasuk salah satu tanaman rempah dan obat, habitat tanaman ini meliputi wilayah asia khususnya Asia khususnya Asia Tenggara. Tanaman ini kemudian mengalami persebaran kedaerah Indo-malaysia, Indonesia, Australia bahkan Afrika. Hampir setiap orang Indonesia dan India serta bangsa asia umumnya pernah mengkonsumsi tanaman rempah ini, baik sebagai pelengkap bumbu masakan jamu atau untuk menjaga kesehatan dan kecantikan.

Nama Daerah
Sumatra : Kunyet (Aceh), Hunik (Batak), Undre (Nias)
Jawa : Kunyir, Koneng (Sunda), Kunir (Jawa)
Kalimantan : Kunit, Janar (Banjar), Cahang (Dayak)
Sulawesi : Kuni (Toraja), Kunyi (Makasar)
Irian : Rame, Mingguai

Habitat
Tumbuh diladang dan dihutan, terutama di hutan jati. Banyak juga ditanam di pekarangan. Dapat tumbuh didataran rendah sampai ketinggian 2000 m dpl.

Bagian tanaman yang digunakan
Rimpang

Nama simplisia
Curcume domesticae Rhizoma
Pemerian
Bau khas aromatik; rasa agak pahit, agak pedas, lama kelamaan menimbulkan rasa tebal
Pemeriksaan Makroskopik.
Kepingan : Ringan, rapuh, warna kuning jingga kecoklatan; bentuk hampir bundar sampai bulat panjang, kadang-kadang bercabang; lebar 0,5 cm sampai 3 cm, panjang 2 cm sampai 6 cm, tebal 1mm sampai 5mm; umumnya melengkung tidak beraturan, kadang-kadang terdapat pangkal upih daun dan pangkal akar. Batas korteks dan silinder pusat kadang-kadang jelas. Berkas patahan : agak rata, berdebu, warna kuning jingga sampai coklat kemerahan.
Pemeriksaan Mikroskopik
Epidermis : satu lapis sel, pipih berbentuk poligonal, dinding sel menggabus. Rambut penutup : berbentuk kerucut, lurus atau agak bengkok; panjang 250 µm sampai 890 µm, dinding tebal. Hipodermis : terdiri dari beberapa lapis sel terentang tangensial , dinding sel menggabus. Periderm : terdiri dari 6 lapis sampai 9 lapis sel berbentuk segi panjang, dinding menggabus. Korteks dan silibder pusat : parenkimatik, terdiri dari sel-sel besar, penuh berisi pati. Butir pati: tunggal, bentuk lonjong atau bulat telur dengan satu ujung mempunyai tonjolan atau berbentuk bulat sampai hampir segitiga dengan satu sisi membulat; lamela kurang jelas ; hilus yang kurang jelas terdapat pada tonjolan di ujung butir; panjang 10 µm sampai 60 µm, umumnya 20 µm sampai 40 µm, lebar 10 µm sampai 28 µm, umumnya 14 µm sampai 20 µm. Sel sekresi : banyak tersebar, bentuk bulat atau lonjong berisi minyak berwarna kuning jingga yang sebagian mendamar dan berwarna coklat kekuningan; pada penambahan besi (III) klorida LP warna menjadi lebih tua. Berkas pembuluh : kolateral, tersebar tidak beraturan pada korteks dan pada silinder pusat, berkas pembuluh dibawah endodermis tersusun dalam lingkaran, kadang-kadang berkas pembuluh dikelilingi sel parenkim yang tersusun menjari; pembuluh kayu umumnya terdiri dari pembuluh tangga dan pembuluh jala, lebar 20 µm sampai 80 µm, tidak berlignin. Endodermis : terdiri dari 1 lapis sel terentang tangensial, dinding radial menebal, tidak terdapat pati.
Serbuk : warna kuning sampai kuning jingga. Fragmen pengenal adalah butir pati; gumpalan tidak beraturan zat berwarna kuning sampai kuning coklat; parenkim dengan sel sekresi; fragmen pembuluh tangga dan pembuluh jala; fragmen rambut penutup warna kuning; tidak terdapat serabut.
Cara Identifikasi
a. Pada 2mg serbuk rimpang tambahkan 5 tetes asam sulfat P; terjadi warna merah darah.
b. Pada 2mg serbuk rimpang tambahkan 5 tetes asam sulfat 10N; terjadi warna coklat.
c. Pada 2mg serbuk rimpang tambahkan 5 tetes asam klorida pekat P; terjadi warna coklat.
d. Pada 2mg serbuk rimpang tambahkan 5 tetes larutan natrium hidroksida P 5% b/v; terjadi warna jingga.
e. Pada 2mg serbuk rimpang tambahkan 5 tetes amonia (25%) P; terjadi warna merah jingga.
f. Pada 2mg serbuk rimpang tambahkan 5 tetes larutan besi (III) klorida P 5% b/v; terjadi warna coklat.
g. Pada 2mg serbuk rimpang tambahkan 5 tetes larutan timbal (II) asetat P 5% b/v; terjadi warna merah jambu.

Uji kemurnian
Kadar abu : tidak lebih dari 9%
Kadar abu yang tidak larut dalam asam : tidak lebih dari 1,6%
Kadar sari yang larut dalam air tidak kurang dari 15%
Kadar sari yang larut dalam etanol tidak kurang dari 10%
Bahan organik asing tidak lebih dari 2%
C. Kandungan Kimia


Kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat obat yang disebut kurkuminoid. Kurkuminoid terdiri atas :
- Kurkumin : RI = R2 = OCH3 dengan kandungan 10 %
- Desmetoksikurkumin : R1 = OCH3, R2 = H dengan kandungan 1–5 %
- Bisdesmetoksikurkumin : R1 = R2 = H, berupa minyak atsiri (terdiri dari keton sesquiterpan, turmeron, tumeon 60 %, zingiberen 25 %, feladeren, sabinen, borneol, dan sineil )
Selain itu, kunyit juga mengandung lemak 1–3 %, karbohidrat 3 %, protein 30 %, pati 8 %, vitamin C 45 %–55 %, garam-garam mineral (zat besi, fosfor, kalsium), saponin, flavanoid, damar, tanin, dan poliferol.




D. Khasiat
Obat tradisional
1. Obat Dalam : panas dalam, diare (disentri), sesak nafas, gusi bengkak, berak lender, keputihan, haid tidak lancar, mempelancar ASI
2. Obat Luar : gatal–gatal, obat borok (sebagai antiseptik dan antibakteri), eksim, bengkak,
caranya dengan dibakar lalu dihirup atau dapat juga dikonsumsi dalam bentuk perasan (filtrat)
Obat Modern
Kurkumin dan minyak atsiri berfungsi untuk pengobatan hepatitis, antioksidan, antimikroba (broad spectrum), anti kolesterol, anti HIV, anti tumor (karena mengandung apostosis untuk hormone dependent and independent dan dose–independent), anti invasi, anti rheumatoid arthritis (rematik), diabetes mellitus, tifus, usus buntu, amandel

E. Tahapan Cara Pengumpulan
1. Penyortiran Basah dan Pencucian
Sortasi pada bahan segar dilakukan untuk memisahkan rimpang dari kotoran berupa tanah, sisa tanaman, dan gulma. Setelah selesai, timbang jumlah bahan hasil penyortiran dan tempatkan dalam wadah plastik untuk pencucian. Pencucian dilakukan dengan air bersih, jika perlu disemprot dengan air bertekanan tinggi. Amati air bilasannya dan jika masih terlihat kotor lakukan pembilasan sekali atau dua kali lagi. Hindari pencucian yang terlalu lama agar kualitas dan senyawa aktif yang terkandung didalam tidak larut dalam air. Pemakaian air sungai harus dihindari karena dikhawatirkan telah tercemar kotoran dan banyak mengandung bakteri/penyakit. Setelah pencucian selesai, tiriskan dalam tray/wadah yang belubang-lubang agar sisa air cucian yang tertinggal dapat dipisahkan, setelah itu tempatkan dalam wadah plastik/ember.

2. Perajangan
Jika perlu proses perajangan, lakukan dengan pisau stainless steel dan alasi bahan yang akan dirajang dengan talenan. Perajangan rimpang dilakukan melintang dengan ketebalan kira-kira 5 mm – 7 mm. Setelah perajangan, timbang hasilnya dan taruh dalam wadah plastik/ember. Perajangan dapat dilakukan secara manual atau dengan mesin pemotong.
3. Pengeringan
Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan sinar matahari atau alat pemanas/oven. pengeringan rimpang dilakukan selama 3 – 5 hari, atau setelah kadar airnya dibawah 8%. pengeringan dengan sinar matahari dilakukan diatas tikar atau rangka pengering, pastikan rimpang tidak saling menumpuk. Selama pengeringan harus dibolak-balik kira-kira setiap 4 jam sekali agar pengeringan merata. Lindungi rimpang tersebut dari air, udara yang lembab dan dari bahan-bahan disekitarnya yang bisa mengkontaminasi. Pengeringan di dalam oven dilakukan pada suhu 50oC – 60oC. Rimpang yang akan dikeringkan ditaruh di atas tray oven dan pastikan bahwa rimpang tidak saling menumpuk. Setelah pengeringan, timbang jumlah rimpang yang dihasilkan.
4. Penyortiran Kering
Selanjutnya lakukan sortasi kering pada bahan yang telah dikeringkan dengan cara memisahkan bahan-bahan dari benda-benda asing seperti kerikil, tanah atau kotoran-kotoran lain. Timbang jumlah rimpang hasil penyortiran ini (untuk menghitung rendemennya).
5. Pengemasan
Setelah bersih, rimpang yang kering dikumpulkan dalam wadah kantong plastik atau karung yang bersih dan kedap udara (belum pernah dipakai sebelumnya). Berikan label yang jelas pada wadah tersebut, yang menjelaskan nama bahan, bagian dari tanaman bahan itu, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih dan metode penyimpanannya.
6. Penyimpanan
Kondisi gudang harus dijaga agar tidak lembab dan suhu tidak melebihi 30oC dan gudang harus memiliki ventilasi baik dan lancar, tidak bocor, terhindar dari kontaminasi bahan lain yang menurunkan kualitas bahan yang bersangkutan, memiliki penerangan yang cukup (hindari dari sinar matahari langsung), serta bersih dan terbebas dari hama gudang.
F. Cara mengekstrasi
1. Persiapan Bahan
Kunyit mula-mula dipilih dan dibersihkan, kemudian dipotong kecil-kecil/tipis-tipis. Selanjutnya kunyit tersebut ditimbang sebanyak 20 gram untuk persiapan ekstraksi.
2. Ekstraksi Kurkumin
Kunyit sebanyak 20 gram dikeringkan dalam oven pada suhu 100 oC selama 1 jam. Selanjutnya dimasukkan ke dalam labu leher tiga ditambah pelarut asam asetat glasial dengan jumlah volume dan waktu ekstraksi tertentu. Pemanas dihidupkan dan pendingin balik diaktifkan. Waktu nol dari ekstraksi ditentukan pada saat asam asetat glasial mencapai titik didihnya (118,1 oC) dan diakhiri pada waktu yang telah ditentukan. Hasil ekstraksi didinginkan dan disaring menggunakan kertas saring. Filtratnya didistilasi sedangkan residunya dibuang.

3. Distilasi
Filtrat yang diperoleh dari hasil ekstraksi dimasukkan ke dalam labu distilasi untuk memisahkan kurkumin dari pelarut. Pemanas dihidupkan dan diperoleh hasilnya berupa pelarut dan residu. Residu dikeringkan di dalam oven dengan suhu 120 C untuk menghilangkan sisa asam asetat glasial yang masih terdapat dalam kurkumin. Setelah itu dilakukan penimbangan sampai diperoleh berat konstan.


G. Persyaratan mutu
1. Warna : Kuning-jingga
2. Aroma : khas wangi aromatis
3. Rasa : mirip rempah dan agak pahit
4. Kadar air : 12 %
5. Kadar abu : 3-7 %
6. Kadar pasir : 1 %
7. Kadar minyak atsiri : 5 %

H. Bentuk Sediaan OT Kunyit
Kunyit mempunyai prospek cerah pada sektor industri karena dapat dibuat dalam berbagai bentuk (ekstrak, minyak, pati, makanan/minuman, kosmetika). Produk farmasi berbahan baku kunyit juga mampu bersaing dengan berbagai obat paten (suplemen) yang harganya relatif mahal. Industri produk bahan jadi dari ekstrak kunyit (suplemen) sangatlah berkembang. Produk-produk dari bahan jadi kunyit diberi bahan tambahan seperti vitamin B1, B2, B6, B12, vitamin E, lesitin, amprotab, magnesium stearat, nepagi, dan kolidon 90.





Tingkat manfaat dan keamanan dari simplisia yang telah nenjadi obat jadi ini, yaitu kombinasi aktivitas kandungan kimia aktif dalam satu bahan nabati yang mempunyai efek komplementer antara kurkuminoid dengan minyak atsiri












BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat obat yang disebut kurkuminoid. Kurkuminoid terdiri atas Kurkumin, Desetoksikurkumin Bisdesmetoksikurkumin. Pengambilan kurkurmin dari kunyit dilakukan dengan cara ekstraksi
Tingkat manfaat dan keamanan dari simplisia yang telah nenjadi obat jadi ini, yaitu kombinasi aktivitas kandungan kimia aktif dalam satu bahan nabati yang mempunyai efek komplementer antara kurkuminoid dengan minyak atsiri

B. Saran