Jumat, 18 Februari 2011

laporan KFA antibiotik

IDENTIFIKASI RIFAMPISIN dan KANAMISIN

A. PENDAHULUAN

1. Tujuan Percobaan

Mengidentifikasi adanya golongan antibiotik secara kualitatif dan menentukan reaksi didalamnya

2. Dasar Teori

Antibiotika adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi/jamur, yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain. Banyak antibiotika saat ini dibuat secara semisintetik atau sintetik penuh

Aminoglikosid merupakan senyawa yang terdiri dari 2 atau lebih gugus gula amino yang terikat lewat ikatan glikosidik pada inti heksosa. Aminoglikosid merupakan produk streptomises atau fungus lainnya. Seperti Streptomyces griseus untuk Streptomisin, Streptomyses fradiae untuk Neomisin, Streptomyces kanamyceticus untuk Kanamisin.

Sifat Fisiko-kimia kanamisin: Basa kuat (terdapat beberapa pusat basa), hidrofil/sangat polar. pH stabil 4,5 – 7. untuk terapi: bentuk SO4 (lebih stabil daripada bentuk basa)

Sintesis Rifampisin pertamakali pada tahun 1957 di Itali dari Sterptomycess mediterranei. Rifampisin merupakan komponen mayor dari OAT aktivitas antimikroba ikatan antara DNA – dependent RNA polymerase dari mikobaterium, kemudian menghambat sintesis awal RNA.

Rifampisin merupakan serbuk kristal merah-coklat dan sangat sedikit larut dalam air dan sedikit larut dalam alkohol. Obat ini mempunyai pKa 7,9. Larut dalam kloroform, DMSO, etil asetat, metanol, tetrahidrofuran. Dalam perdagangan, rifampisin tersedia dalam bentuk serbuk steril untuk injeksi mengandung Natrium formaldehid, sulfoksilat, natrium hidroksida yang ditambahkan untuk mengatur pH. Dalam perdagangan sediaan oral rifampin tersedia sebagai obat tunggal, dalam bentuk kombinasi tetap dengan isoniazid, serta dalam kombinasi tetap dengan isoniasid dan pirazinamid.

Serbuk rifampisin berwarna merah kecoklatan. Vial yang utuh harus disimpan pada suhu kamar dan dihindarkan dari cahaya dan panas yg berlebihan. Rekonstitusi serbuk untuk injeksi dengan SWFI; untuk injeksi larutkan dalam sejumlah volume yg tepat dengan cairan yang kompatibel (contoh : 100 ml D5W). Vial yang telah direkontitusi stabil selama 24 jam pada suhu kamar.Stabilitas parenteral admixture pada penyimpanan suhu kamar (25°C) adalah 4 jam untuk pelarut D5W dan 24 jam untuk pelarut NS

3. Alat dan Bahan

a. Alat

1. Tabung reaksi

2. Rak tabung

3. Pipet tetes

4. Gelas kimia

5. Spatula

6. Lap / tisu

b. Bahan :

1. AgNO3

2. BaCl

3. Aquadest

4. NaOH

5. HCl

6. H2SO4

7. HNO3

8. Na Nitropusid

9. Pb asetat

B. PROSEDUR

1. Uji organoleptik

Uji organoleptik meliputi uji makroskopik, uji mikroskopik, warna dari sampel, bau dan rasa dari sampel.

2. Uji kelarutan

Uji kelarutan meliputi kelarutan sampel daalam air, dalam asam, dalam basa dan dalam pelarut organik.

Caranya : siapkan 4 buah tabung reaksi, masing-masing tabung berturut-turut diisi dengan air/aquades, latutan asam, larutan basa, dan pelarut organik. Kemudian sampel dilarutkan dalam masing-masing tabung.

3. Uji reaksi warna

Caranya : sampel direaksikan dengan suatu reagen tertentu, kemudian amati perubahan warna yang terjadi

4. DATA DAN PENGAMATAN

Penentuan

Pengamatan

kemungkinan

1. ORGANOLEPTIK

a. Makroskopik (kode 62)

(Kode 67)

hablur

Rifampisin

Kanamisin

b. Mikroskopik (kode 62)

(Kode 67)

-

-

c. Warna (kode 62)

(Kode 67)

Merah kecoklatan

Putih agak kuning

Rifampisin

Kanamisin

d. Bau (kode 62)

(Kode 67)

-

Tidak berbau

Rifampisin

Kanamisin

e. Rasa (kode 62)

(Kode 67)

-

-

Rifampisin

Kanamisin

Penentuan

Pengamatan

kemungkinan

2. KELARUTAN

a. Air (kode 62)

(kode67)

Sangat sukar larut

Larut

Rifampisin

Kanamisin

b. Asam (kode 62)

(kode67)

Larut

Sukar larut

Rifampisin

Kanamisin

c. Basa (kode62)

(kode67)

Tidak larut

Rifampisin

Kanamisin

d. Pelarut organik (kode62)

(kode67)

Mudah larut

Praktis tidak larut

Rifampisin

Kanamisin

Reaksi warna :

S 67+ BaCl è endapan putih kemungkinan Gentamisin

S 67 + Pb asetat endapan putih è ditambah NaOH è endpan larut. kemungkinan gentamisin

S 67 + Ninhidrin + piridin + H2O è warna ungu kebiruan seperti lembayung (+) kanamisin

5. PEMBAHASAN

Pada praktikum ini bertujuan untuk mengidentifikasi antibiotik golongan aminoglikosid yaitu kanamisin dan yang kedua golongan anti TBC yaitu Rifampisin cara identifikasi berdasarkan reaksi kimia dengan prinsip pereaksi yang dapat bereaksi dengan senyawa yang di analisis meliputi pewarnaan, pengendapan dan pembentukan gas dan bau.

Rifampisin adalah turunan semisintetik dari Rifamisin B, suatu antibiotika yang diturunkan dari Streptomyces meditarranei

Kanamisin merupakan antibiotic golongan aminoglikosida terdiri dari 2 atau lebih gugus gula amino yang terikat lewat ikatan glikosidik pada inti heksosa mempunyai mekanisme kerja menghambat dinding sel dan efektif terhadap bakteri gram negative.

Pada saat identifikasi kanamisin terjadi kesulitan dikarenakan kurang telitinya pengamatan warna yang terbentuk pada saat pemanasan. Sehingga terjadi kesalahan pada saat penarikan kesimpulan

Kerangka dasar kanamisin - gentamisin adalah 2 desoksitretamin, tapi terikat dengan dua monosakarida. Kanamisin berasal dari streptomyces kanamycetius dan gentamisin, sisomisin dari mikromonospora. Ciri khas antibiotik aminoglikosida adalah spektrum kerjanya yang luas.

.

6. KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa sampel no. 62 adalah Rifampisin, sedangkan sampel no. 67 adalah Kanamisin

7. DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1979). Farmakope Indonesia edisi ketiga 1979. Jakarta: Depdiknas

http://diskes.jabarprov.go.id/ [ diakses tanggal 11 desmber 2010 pukul 21.23 WIB ]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar